Arsip untuk Mei, 2012

ASKEP EMFISEMA

 

ASKEP EMFISEMA

Asuhan Keperawatan Emfisema(Askep Emfisema)

A. Pengertian

Emfisema merupakan keadaan dimana alveoli menjadi kaku mengembang dan terusmenerus terisi udara walaupun setelah ekspirasi.Emfisema merupakan morfologik didefisiensi sebagai pembesaran abnormal ruang-ruang udara distal dari bronkiolus terminal dengan desruksi dindingnya.Emfisema adalah penyakit obtruktif kronik akibat kurangnya elastisitas paru danluas permukaan alveoli.

B. Etiologi

Beberapa hal yang dapat menyebabkan emfisema paru yaitu :1. Rokok Rokok secara patologis dapat menyebabkan gangguan pergerakan silia pada jalannafas, menghambat fungsi makrofag alveolar, menyebabkan hipertrofi danhiperplasia kelenjar mukus bromkus.2. PolusiPolutan industri dan udara juga dapat menyebabkan emfisema. Insiden dan angkakematian emfisema bisa dikatakan selalu lebih tinggi di daerah yang padatindustrialisasi, polusi udara seperti halnya asap tembakau, dapat menyebabkangangguan pada silia menghambat fungsi makrofag alveolar.3. InfeksiInfeksi saluran nafas akan menyebabkan kerusakan paru lebih berat. Penyakitinfeksi saluran nafas seperti pneumonia, bronkiolitis akut dan asma bronkiale,dapat mengarah pada obstruksi jalan nafas, yang pada akhirnya dapatmenyebabkan terjadinya emfisema.4. Genetik 5. Paparan Debu

 

D. Manifestasi Klinis

1.Dispnea2.Pada inspeksi: bentuk dada ‘burrel chest’3.Pernapasan dada, pernapasan abnormal tidak efektif, dan penggunaan otot-otot aksesori pernapasan (sternokleidomastoid)4.Pada perkusi: hiperesonans dan penurunan fremitus pada seluruh bidang paru.5.Pada auskultasi: terdengar bunyi napas dengan krekels, ronki, dan perpanjangan ekspirasi6.Anoreksia, penurunan berat badan, dan kelemahan umum7.Distensi vena leher selama ekspirasi.

E. Patofisiologi

Emfisema paru merupakan suatu pengembangan paru disertai perobekanalveolus-alveolus yang tidak dapat pulih, dapat bersifat menyeluruh atauterlokalisasi, mengenai sebagian tau seluruhparu.Pengisian udara berlebihan dengan obstruksi terjadi akibat dari obstrusisebagian yang mengenai suatu bronkus atau bronkiolus dimana pengeluaranudara dari dalam alveolus menjadi lebih sukar dari pemasukannya. Dalamkeadaan demikian terjadi penimbunan udara yang bertambah di sebelah distaldari alveolus.Pada emfisema terjadi penyempitan saluran nafas, penyempitan ini dapatmengakibatkan obstruksi jalan nafas dan sesak, penyempitan saluran nafasdisebabkan oleh berkurangnya elastisitas paru-paru.

F. Komplikasi

1.Sering mengalami infeksi pada saluran pernafasan2.Daya tahan tubuh kurang sempurna3.Tingkat kerusakan paru semakin parah4.Proses peradangan yang kronis pada saluran nafas5.Pneumonia6.Atelaktasis7.Pneumothoraks8.Meningkatkan resiko gagal nafas pada pasien.

 

G. Pemeriksaan diagnostic

Sinar x dada: dapat menyatakan hiperinflasi paru-paru;mendatarnya diafragma; peningkatan area udararetrosternal; penurunan tanda vaskularisasi/bula(emfisema); peningkatan tanda bronkovaskuler (bronkitis), hasil normal selama periode remisi (asma).

Tes fungsi paru: dilakukan untuk menentukan penyebab dispnea, untuk menentukan apakah fungsiabnormal adalah obstruksi atau restriksi, untuk memperkirakan derajat disfungsi dan untuk mengevaluasi efek terapi, mis., bronkodilator.

TLC: peningkatan pada luasnya bronkitis dan kadang-kadang pada asma; penurunan emfisema

Kapasitas inspirasi: menurun pada emfisema

Volume residu: meningkat pada emfisema, bronkitiskronis, dan asma

FEV1/FVC: rasio volume ekspirasi kuat dengankapasitas vital kuat menurun pada bronkitis dan asma

GDA: memperkirakan progresi proses penyakit kronish.Bronkogram: dapat menunjukkan dilatasi silindris bronkus pada inspirasi, kollaps bronkial pada ekspirasikuat (emfisema); pembesaran duktus mukosa yangterlihat pada bronchitis

JDL dan diferensial: hemoglobin meningkat (emfisemaluas), peningkatan eosinofil (asma)

Kimia darah: Alfa 1-antitripsin dilakukan untuk meyakinkan defisiensi dan diagnosa emfisema primer

Sputum: kultur untuk menentukan adanya infeksi,mengidentifikasi patogen; pemeriksaan sitolitik untuk mengetahui keganasan atau gangguan alergi

EKG: deviasi aksis kanan, peninggian gelombang P(asma berat); disritmia atrial (bronkitis), peninggiangelombang P pada lead II, III, AVF (bronkitis,emfisema); aksis vertikal QRS (emfisema)

EKG latihan, tes stres: membantu dalam mengkajiderajat disfungsi paru, mengevaluasi keefektifan terapi bronkodilator, perencanaan/evaluasi program latihan.Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Emfisema1.Pengkajian

Tinggalkan komentar

Sindrom Gawat Nafas (SGN) Pada BBL

Sindrom Gawat Nafas (SGN) Pada BBL
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya pada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini yang berjudul “Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Neonatus By “SA” Dengan Sindroma Gawat Nafas”
Penulis membuat makalah ini berdasarkan sumber-sumber pustaka dan melakukan pengkajian kasus di COVIS.Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
Ibu Rika Hardi, Amd Keb selaku pembimbing lapangan
Ibu Widdefrita, SKM selaku pembimbing akademik
Serta semua pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.Penulis merasa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, penulismengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.Penulis berharap semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber bacaanyang bermanfaat dan dapat digunakan dengan sebaik-baiknya.WassalamPadang, Februari 2009Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Periode setelah lahir merupakan awal kehidupan yang tidak menyenangkan bagi bayi.Hal itu disebabkan oleh lingkungan kehidupan sebelumnya (intrauterus) dengan kehidupansekarang ( ekstrauterus ) yang sangat berbeda. Bayi yang dilahirkan prematur ataupun bayi yangdilahirkan dengan penyulit/komplikasi, tentu proses adaptasi kehidupan tersebut menjadi lebihsulit untuk dilaluinya. Bahkan sering kali menjadi pemicu timbulnya komplikasi lain yangmenyebabkan bayi tersebut tidak mampu melanjutkan kehidupan ke fase berikutnya(meninggal). Bayi seperti ini yang disebut dengan istilah bayi resiko tinggi.(surasmi,dkk.2003)Salah satu dari bayi resiko tinggi adalah bayi dengan sindroma gawat nafas (SGN/RDS).Respiratory Distress Syndrome ( RDS ) didapatkan sekitar 5 -10% pada bayi kurang bulan, 50%
pada bayi dengan berat 501-1500 gram (lemons et al,2001). Angka kejadian berhubungandengan umur gestasi dan berat badan. (www.google.com)Persentase kejadian menurut usia kehamilan adalah 60-80% terjadi pada bayi yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 28 minggu; 15-30% pada bayi antara 32-36 minggu dan jarang sekali ditemukan pada bayi yang cukup bulan. Insiden pada bayi prematur kulit putihlebih tinggi dari pada kulit hitam dan lebih sering terjadi pada bayi laki-laki dari pada perempuan(nelson,1999). Selain itu kenaikan frekuensi juga sering terjadi pada bayi yang lahir dari ibuyang menderita gangguan perfusi darah uterus selama kehamilan, misalnya ibu menderita penyakit diabetes, hipertensi, hipotensi, seksio serta perdarahan antepartum. ( surasmi,dkk.2003 ) Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bayi resiko tinggi (SGN ) dapat hidup dengan baik tanpa mengalami cacat. Hal ini terjadi jika ia dirawat di ruang perawatan intensif neonatus, dengan tenaga perawat yang memiliki spesialisasi kealihan di bidang tersebut.B.

TUJUAN
Adapun tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui teori sertaasuhan yang akan diberikan pada neonatus dengan resiko tinggi khususnya SGNSedangkan tujuan khusus dari makalah ini adalah:
• Mengumpulkan data neonatus dengan SGN
• Melakukan interpretasi data seperti mendiagnosa
• Melakukan antisipasi masalah / diagnosa potensial
• Melakukan tindakan segera jika diperlukan
• Melakukan perencanaan
• Melakukan pelaksaksanaan tindakan
• Melakukan evaluasi dari pelaksaan yang telah dilakukan
BAB II
TINJAUAN TEORI
A.PENGERTIAN
Sindrom gawat nafas ( respiratory distress syndroma, RDS ) adalah:
Kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau hiperpnea dengan frekuensi pernafasan besar 60x/i, sianosis, merintih waktu ekspirasi dan retraksi didaerah epigastrium, suprosternal, interkostal pada saat inspirasi.( Ngatisyah.2005 hal 23 )
Kumpulan gejala yang terdiri dari frekuensi nafas bayi lebih dari 60x/i atau kurang dari 30x/i danmungkin menunjukan satu atau lebih dari gejala tambahan gangguan nafas sebagai berikut:- Bayi dengan sianosis sentral ( biru pada lidah dan bibir )- Ada tarikan dinding dada- Merintih- Apnea ( nafas berhenti lebih dari 20 detik )( PONED,2004 )
Istilah yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus.( Surasmi, asrining,dkk. 2003 hal 70 )
Gangguan ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan perkembangan maturitas paru( Whalley dan wong, 1995 )
Menurut Petty dan Asbaugh (1971), definisi dan kriteria RDS bila didapatkan sesak nafas berat(dyspnea ), frekuensi nafas meningkat (tachypnea ), sianosis yang menetap dengan terapioksigen, penurunan daya pengembangan paru,adanya gambaran infiltrat alveolar yang merata pada foto thorak dan adanya atelektasis, kongesti vascular, perdarahan, edema paru, dan adanyahyaline membran pada saat otopsi(www.google.com)
Menurut Murray et.al (1988) disebut RDS apabila ditemukan adanya kerosakan paru secaralangsung dan tidak langsung, kerosakan paru ringan sampai sedang atau kerosakan yang beratdan adanya disfungsi organ non pulmonar.(www.google.com)
Menurut Bernard et.al (1994) apabila onset akut, ada infiltrat bilateral pada foto thorak, tekananarteri pulmonal =18mmHg dan tidak ada bukti secara klinik adanya hipertensi atrium kiri,adanya kerosakan paru akut dengan PaO2 : FiO2 kurang atau sama dengan 300, adanya sindromgawat napas akut yang ditandai PaO2 : FiO2 kurang atau sama dengan 200, menyokong suatuRDS .(www.google.com)
B.ETIOLOGI
-Kelainan paru: pneumonia
-Kelainan jantung: penyakit jantung bawaan, disfungsi miokardium
-Kelainan susunan syaraf pusat akibat: Aspiksia, perdarahan otak
-Kelainan metabolik: hipoglikemia, asidosis metabolik
-Kelainan bedah: pneumotoraks, fistel trakheoesofageal, hernia diafragmatika
-Kelainan lain: sindrom Aspirasi mekonium, penyakit membran hialinBila menurut masa gestasi penyebab gangguan nafas adalah
-Pada bayi kurang bulana. penyakit membran hialin b.pneumoniac. asfiksiad.kelainan atau malformasi kongenital
-Pada bayi cukup bulane. Sindrom Aspirasi Mekoniumf. pneumoniag. asidosish. kelainan atau malformasi kongenitalGangguan traktus respiratorius:

Hyaline Membrane Disease(HMD),Berhubungan dengan kurangnya masa gestasi ( bayi prematur )

Transient Tachypnoe of the Newborn(TTN),Paru-paru terisi cairan, sering terjadi pada bayi caesar karena dadanya tidak mengalami kompresioleh jalan lahir sehingga menghambat pengeluaran cairan dari dalam paru.
Infeksi(Pneumonia),
Sindroma Aspirasi,
Hipoplasia Paru,
Hipertensi pulmonal,
Kelainan kongenital(Choanal Atresia, Hernia Diafragmatika, Pierre- robin syndrome),
Pleural Effusion,
Kelumpuhan saraf frenikus,Luar traktus respiratoris:
kelainan jantung kongenital, kelainan metabolik, darah dan SSPC.

PATOFISIOLOGI
Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi prematur disebabkan oleh alveolimasih kecil sehingga kesulitan berkembang, pengembangan kurang sempurna kerana dindingthorax masih lemah, produksi surfaktan kurang sempurna. Kekurangan surfaktan mengakibatkankolaps pada alveolus sehingga paru-paru menjadi kaku. Hal tersebut menyebabkan perubahanfisiologi paru sehingga daya pengembangan paru (compliance) menurun 25% dari normal, pernafasan menjadi berat, shunting intrapulmonal meningkat dan terjadi hipoksemia berat,hipoventilasi yang menyebabkan asidosis respiratorik. Telah diketahui bahwa surfaktanmengandung 90% fosfolipid dan 10% protein , lipoprotein ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan menjaga agar alveoli tetap mengembang. Secara makroskopik, paru-paru nampak tidak berisi udara dan berwarna kemerahan seperti hati. Oleh sebab itu paru-paru memerlukantekanan pembukaan yang tinggi untuk mengembang. Secara histologi, adanya atelektasis yangluas dari rongga udara bahagian distal menyebabkan edema interstisial dan kongesti dindingalveoli sehingga menyebabkan desquamasi dari epithel sel alveoli type II. Dilatasi duktus alveoli,tetapi alveoli menjadi tertarik karena adanya defisiensi surfaktan ini. Dengan adanya atelektasisyang progresif dengan barotrauma atau volutrauma dan keracunan oksigen, menyebabkankerosakan pada endothelial dan epithelial sel jalan pernafasan bagian distal sehinggamenyebabkan eksudasi matriks fibrin yang berasal dari darah. Membran hyaline yang meliputialveoli dibentuk dalam satu setengah jam setelah lahir. Epithelium mulai membaik dan surfaktanmulai dibentuk pada 36- 72 jam setelah lahir. Proses penyembuhan ini adalah komplek; pada bayi yang immatur dan mengalami sakit yang berat dan bayi yang dilahirkan dari ibu denganchorioamnionitis sering berlanjut menjadi Bronchopulmonal Displasia (BPD).
D.MANIFESTASI KLINIS
Berat dan ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat dipengaruhi oleh tingkatmaturitas paru. Semakin rendah berat badan dan usia kehamilan, semakin berat gejala klinis yangditujukan.Menurut Surasmi, dkk (2003) tanda dan gejala yang muncul adalah sebagai berikut :1)

• Takhipneu (> 60 kali/menit)2)
• Pernafasan dangkal3)
• Mendengkur 4)
• Sianosis5)
• Pucat6)
• Kelelahan7)
• Apneu dan pernafasan tidak teratur 8)
• Penurunan suhu tubuh9)
• Retraksi suprasternal dan substernal10)
• Pernafasan cuping hidung
E.KLASIFIKASI
Secara klinis gangguan nafas dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu:a. Gangguan nafas berat b. Gangguan nafas sedangc. Gangguan nafas ringan
Kurangi pemberian O2 secara bertahap bila ada perbaikan gangguan napas. Hentikan pemberianO2 jika frekuensi napas antara 30-60 kali/menit.
Penatalaksanaan medis:
Pengobatan yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS adalah:- Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder – Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan caiaran paru- Fenobarbital- Vitamin E menurunkan produksi radikalbebas oksigen
-
Metilksantin ( teofilin dan kafein ) untuk mengobati apnea dan untuk pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik. (cusson,1992)Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaan dalam pengobatan RDS adalah pemberian surfaktan eksogen ( derifat dari sumber alami misalnya manusia, didapat dari cairanamnion atau paru sapi, tetapi bisa juga berbentuk surfaktan buatan )H.

TINDAKAN PENCEGAHAN
Tindakan pencegahan yang harus dilakukan untuk mencegah komplikasi pada bayi resiko tinggiadalah mencegah terjadinya kelahiran prematur, mencegah tindakan seksio sesarea yang tidak sesuai dengan indikasi medis, melaksanakan manajemen yang tepat terhadap kehamilan dankelahiran bayi resiko tinggi, dan pada penatalaksanaan kelahiran dengan usia kehamilan 32minggu atau kurang dianjurkan memberi dexametason atau betametason 48-72 jam sebelum persalinan. Pemberian glukortikoid juga dianjurkan karana berfungsi meningkatkan perkembangan paru janin.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau hiperpnea dengan frekuensi pernafasan besar 60x/i, sianosis, merintih waktu ekspirasi dan retraksi didaerah epigastrium, suprosternal, interkostal pada saat inspirasi.( Ngatisyah.2005 hal 23 )

Etiologinya:
Gangguan traktus respiratorius: Hyaline Membrane Disease(HMD), Transient Tachypnoe of the Newborn(TTN), Infeksi(Pneumonia), Sindroma Aspirasi, Hipoplasia Paru, hip-ertensi pulmonal,kelainan kongenital(Choanal Atresia, Hernia Diafragmatika, Pierre- robin syndrome), PleuralEffusion, kelumpuhan saraf frenikus, dll
Luar traktus respiratoris: kelainan jantung kongenital, kelainan metabolik, darah dan SSP
Manifestasi klinisnya Takhipneu (> 60 kali/menit),
Pernafasan dangkal, Mendengkur, Sianosis,Pucat, Kelelahan, Apneu dan pernafasan tidak teratur, Penurunan suhu tubuh, Retraksisuprasternal dan substernal, Pernafasan cuping hidung
Penatalaksanaan meliputi :
1)Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekwat.
2)Mempertahankan keseimbangan asam basa.
3)Mempertahankan suhu lingkungan netral.
4)Mempertahankan perfusi jaringan adekwat.
5)Mencegah hipotermia.
6)Mempertahankan cairan dan elektrolit adekwat.
B. SARAN
Saran yang dapat diberikan dari makalah ini adalah laksanakanlah penatalaksanaan yang sebaik- baiknya pada neonatus dengan sindroma gawat nafas ini, sehingga pada akhirnya akan dapatmenurunkan angka kematian neonatus- Bagi MahasiswaDalam penetapan manajemen kebidanan diharapkan mahasiswa dapat melakukan pengkajianyang lebih lengkap untuk mendapatkan hasil yang optimal dan mampu memberikan asuhan yangkompeten bagi pasien. Mahasiswa juga diharapkan dapat mengaplikasikan ilmu yangdiperolehnya selama proses pembelajaran di lapangan.- Bagi Institusi PendidikanDiharapkan bimbingan yang seoptimal mungkin dari pendidik lapangan dalam membimbingmahasiswa di lapangan dalam memberikan asuhan kebidanan dan keperawatan bagi pasiensehingga mahasiswa dapat mengevaluasikan teori dan praktek yang telah diperolehnya.- Bagi pasien dan keluarga

Diharapkan kepada klien agar menerapkan asuhan kebidanan yang telah diberikan baik berupatindakan pencegahan maupun dalam pelaksanaannya

DAFTAR PUSTAKA
FKUI .1985.
Ilmu Kesehatan Anak Jilid I.
Jakarta: EGCLadewig,patricia,dkk.2006.
Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir Edisi 5.
Jakarta:EGC

Manuaba, Ida Bagus Gde
. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan.
Jakarta: EGCMansjoer, A dkk. 2002.
Kapita Selekta Kedokteran
. Jakarta : FKUI Ngatisyah.2005.
Perawatan Anak Sakit Edisi 2.
Jakarta: EGCPelatihan PONED Komponen Neonatal 28-30 Oktober 2004)Surasmi,Asrining,dkk.2003.
Perawatan Bayi Resiko Tinggi.
Jakarta: EGChttp://askep-askeb-kita.blogspot.com/

Tinggalkan komentar

Sindrom Gawat Nafas (SGN) Pada BBL

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya pada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini yang berjudul “Manajemen Asuhan Kebidanan Pada Neonatus By “SA” Dengan Sindroma Gawat Nafas”
Penulis membuat makalah ini berdasarkan sumber-sumber pustaka dan melakukan pengkajian kasus di COVIS.Dalam kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
Ibu Rika Hardi, Amd Keb selaku pembimbing lapangan
Ibu Widdefrita, SKM selaku pembimbing akademik
Serta semua pihak yang telah ikut berpartisipasi dalam pembuatan makalah ini.Penulis merasa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu, penulismengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.Penulis berharap semoga makalah ini dapat dijadikan sebagai salah satu sumber bacaanyang bermanfaat dan dapat digunakan dengan sebaik-baiknya.WassalamPadang, Februari 2009Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Periode setelah lahir merupakan awal kehidupan yang tidak menyenangkan bagi bayi.Hal itu disebabkan oleh lingkungan kehidupan sebelumnya (intrauterus) dengan kehidupansekarang ( ekstrauterus ) yang sangat berbeda. Bayi yang dilahirkan prematur ataupun bayi yangdilahirkan dengan penyulit/komplikasi, tentu proses adaptasi kehidupan tersebut menjadi lebihsulit untuk dilaluinya. Bahkan sering kali menjadi pemicu timbulnya komplikasi lain yangmenyebabkan bayi tersebut tidak mampu melanjutkan kehidupan ke fase berikutnya(meninggal). Bayi seperti ini yang disebut dengan istilah bayi resiko tinggi.(surasmi,dkk.2003)Salah satu dari bayi resiko tinggi adalah bayi dengan sindroma gawat nafas (SGN/RDS).Respiratory Distress Syndrome ( RDS ) didapatkan sekitar 5 -10% pada bayi kurang bulan, 50%
pada bayi dengan berat 501-1500 gram (lemons et al,2001). Angka kejadian berhubungandengan umur gestasi dan berat badan. (www.google.com)Persentase kejadian menurut usia kehamilan adalah 60-80% terjadi pada bayi yang lahir dengan usia kehamilan kurang dari 28 minggu; 15-30% pada bayi antara 32-36 minggu dan jarang sekali ditemukan pada bayi yang cukup bulan. Insiden pada bayi prematur kulit putihlebih tinggi dari pada kulit hitam dan lebih sering terjadi pada bayi laki-laki dari pada perempuan(nelson,1999). Selain itu kenaikan frekuensi juga sering terjadi pada bayi yang lahir dari ibuyang menderita gangguan perfusi darah uterus selama kehamilan, misalnya ibu menderita penyakit diabetes, hipertensi, hipotensi, seksio serta perdarahan antepartum. ( surasmi,dkk.2003 ) Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, bayi resiko tinggi (SGN ) dapat hidup dengan baik tanpa mengalami cacat. Hal ini terjadi jika ia dirawat di ruang perawatan intensif neonatus, dengan tenaga perawat yang memiliki spesialisasi kealihan di bidang tersebut.B.

TUJUAN
Adapun tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui teori sertaasuhan yang akan diberikan pada neonatus dengan resiko tinggi khususnya SGNSedangkan tujuan khusus dari makalah ini adalah:
• Mengumpulkan data neonatus dengan SGN
• Melakukan interpretasi data seperti mendiagnosa
• Melakukan antisipasi masalah / diagnosa potensial
• Melakukan tindakan segera jika diperlukan
• Melakukan perencanaan
• Melakukan pelaksaksanaan tindakan
• Melakukan evaluasi dari pelaksaan yang telah dilakukan
BAB II
TINJAUAN TEORI
A.PENGERTIAN
Sindrom gawat nafas ( respiratory distress syndroma, RDS ) adalah:
Kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau hiperpnea dengan frekuensi pernafasan besar 60x/i, sianosis, merintih waktu ekspirasi dan retraksi didaerah epigastrium, suprosternal, interkostal pada saat inspirasi.( Ngatisyah.2005 hal 23 )
Kumpulan gejala yang terdiri dari frekuensi nafas bayi lebih dari 60x/i atau kurang dari 30x/i danmungkin menunjukan satu atau lebih dari gejala tambahan gangguan nafas sebagai berikut:- Bayi dengan sianosis sentral ( biru pada lidah dan bibir )- Ada tarikan dinding dada- Merintih- Apnea ( nafas berhenti lebih dari 20 detik )( PONED,2004 )
Istilah yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus.( Surasmi, asrining,dkk. 2003 hal 70 )
Gangguan ini merupakan penyakit yang berhubungan dengan perkembangan maturitas paru( Whalley dan wong, 1995 )
Menurut Petty dan Asbaugh (1971), definisi dan kriteria RDS bila didapatkan sesak nafas berat(dyspnea ), frekuensi nafas meningkat (tachypnea ), sianosis yang menetap dengan terapioksigen, penurunan daya pengembangan paru,adanya gambaran infiltrat alveolar yang merata pada foto thorak dan adanya atelektasis, kongesti vascular, perdarahan, edema paru, dan adanyahyaline membran pada saat otopsi(www.google.com)
Menurut Murray et.al (1988) disebut RDS apabila ditemukan adanya kerosakan paru secaralangsung dan tidak langsung, kerosakan paru ringan sampai sedang atau kerosakan yang beratdan adanya disfungsi organ non pulmonar.(www.google.com)
Menurut Bernard et.al (1994) apabila onset akut, ada infiltrat bilateral pada foto thorak, tekananarteri pulmonal =18mmHg dan tidak ada bukti secara klinik adanya hipertensi atrium kiri,adanya kerosakan paru akut dengan PaO2 : FiO2 kurang atau sama dengan 300, adanya sindromgawat napas akut yang ditandai PaO2 : FiO2 kurang atau sama dengan 200, menyokong suatuRDS .(www.google.com)
B.ETIOLOGI
-Kelainan paru: pneumonia
-Kelainan jantung: penyakit jantung bawaan, disfungsi miokardium
-Kelainan susunan syaraf pusat akibat: Aspiksia, perdarahan otak
-Kelainan metabolik: hipoglikemia, asidosis metabolik
-Kelainan bedah: pneumotoraks, fistel trakheoesofageal, hernia diafragmatika
-Kelainan lain: sindrom Aspirasi mekonium, penyakit membran hialinBila menurut masa gestasi penyebab gangguan nafas adalah
-Pada bayi kurang bulana. penyakit membran hialin b.pneumoniac. asfiksiad.kelainan atau malformasi kongenital
-Pada bayi cukup bulane. Sindrom Aspirasi Mekoniumf. pneumoniag. asidosish. kelainan atau malformasi kongenitalGangguan traktus respiratorius:

Hyaline Membrane Disease(HMD),Berhubungan dengan kurangnya masa gestasi ( bayi prematur )

Transient Tachypnoe of the Newborn(TTN),Paru-paru terisi cairan, sering terjadi pada bayi caesar karena dadanya tidak mengalami kompresioleh jalan lahir sehingga menghambat pengeluaran cairan dari dalam paru.
Infeksi(Pneumonia),
Sindroma Aspirasi,
Hipoplasia Paru,
Hipertensi pulmonal,
Kelainan kongenital(Choanal Atresia, Hernia Diafragmatika, Pierre- robin syndrome),
Pleural Effusion,
Kelumpuhan saraf frenikus,Luar traktus respiratoris:
kelainan jantung kongenital, kelainan metabolik, darah dan SSPC.

PATOFISIOLOGI
Faktor-faktor yang memudahkan terjadinya RDS pada bayi prematur disebabkan oleh alveolimasih kecil sehingga kesulitan berkembang, pengembangan kurang sempurna kerana dindingthorax masih lemah, produksi surfaktan kurang sempurna. Kekurangan surfaktan mengakibatkankolaps pada alveolus sehingga paru-paru menjadi kaku. Hal tersebut menyebabkan perubahanfisiologi paru sehingga daya pengembangan paru (compliance) menurun 25% dari normal, pernafasan menjadi berat, shunting intrapulmonal meningkat dan terjadi hipoksemia berat,hipoventilasi yang menyebabkan asidosis respiratorik. Telah diketahui bahwa surfaktanmengandung 90% fosfolipid dan 10% protein , lipoprotein ini berfungsi menurunkan tegangan permukaan dan menjaga agar alveoli tetap mengembang. Secara makroskopik, paru-paru nampak tidak berisi udara dan berwarna kemerahan seperti hati. Oleh sebab itu paru-paru memerlukantekanan pembukaan yang tinggi untuk mengembang. Secara histologi, adanya atelektasis yangluas dari rongga udara bahagian distal menyebabkan edema interstisial dan kongesti dindingalveoli sehingga menyebabkan desquamasi dari epithel sel alveoli type II. Dilatasi duktus alveoli,tetapi alveoli menjadi tertarik karena adanya defisiensi surfaktan ini. Dengan adanya atelektasisyang progresif dengan barotrauma atau volutrauma dan keracunan oksigen, menyebabkankerosakan pada endothelial dan epithelial sel jalan pernafasan bagian distal sehinggamenyebabkan eksudasi matriks fibrin yang berasal dari darah. Membran hyaline yang meliputialveoli dibentuk dalam satu setengah jam setelah lahir. Epithelium mulai membaik dan surfaktanmulai dibentuk pada 36- 72 jam setelah lahir. Proses penyembuhan ini adalah komplek; pada bayi yang immatur dan mengalami sakit yang berat dan bayi yang dilahirkan dari ibu denganchorioamnionitis sering berlanjut menjadi Bronchopulmonal Displasia (BPD).
D.MANIFESTASI KLINIS
Berat dan ringannya gejala klinis pada penyakit RDS ini sangat dipengaruhi oleh tingkatmaturitas paru. Semakin rendah berat badan dan usia kehamilan, semakin berat gejala klinis yangditujukan.Menurut Surasmi, dkk (2003) tanda dan gejala yang muncul adalah sebagai berikut :1)

• Takhipneu (> 60 kali/menit)2)
• Pernafasan dangkal3)
• Mendengkur 4)
• Sianosis5)
• Pucat6)
• Kelelahan7)
• Apneu dan pernafasan tidak teratur 8)
• Penurunan suhu tubuh9)
• Retraksi suprasternal dan substernal10)
• Pernafasan cuping hidung
E.KLASIFIKASI
Secara klinis gangguan nafas dibedakan menjadi 3 kelompok, yaitu:a. Gangguan nafas berat b. Gangguan nafas sedangc. Gangguan nafas ringan
Kurangi pemberian O2 secara bertahap bila ada perbaikan gangguan napas. Hentikan pemberianO2 jika frekuensi napas antara 30-60 kali/menit.
Penatalaksanaan medis:
Pengobatan yang biasa diberikan selama fase akut penyakit RDS adalah:- Antibiotika untuk mencegah infeksi sekunder – Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan caiaran paru- Fenobarbital- Vitamin E menurunkan produksi radikalbebas oksigen
-
Metilksantin ( teofilin dan kafein ) untuk mengobati apnea dan untuk pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik. (cusson,1992)Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaan dalam pengobatan RDS adalah pemberian surfaktan eksogen ( derifat dari sumber alami misalnya manusia, didapat dari cairanamnion atau paru sapi, tetapi bisa juga berbentuk surfaktan buatan )H.

TINDAKAN PENCEGAHAN
Tindakan pencegahan yang harus dilakukan untuk mencegah komplikasi pada bayi resiko tinggiadalah mencegah terjadinya kelahiran prematur, mencegah tindakan seksio sesarea yang tidak sesuai dengan indikasi medis, melaksanakan manajemen yang tepat terhadap kehamilan dankelahiran bayi resiko tinggi, dan pada penatalaksanaan kelahiran dengan usia kehamilan 32minggu atau kurang dianjurkan memberi dexametason atau betametason 48-72 jam sebelum persalinan. Pemberian glukortikoid juga dianjurkan karana berfungsi meningkatkan perkembangan paru janin.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Kumpulan gejala yang terdiri dari dispnea atau hiperpnea dengan frekuensi pernafasan besar 60x/i, sianosis, merintih waktu ekspirasi dan retraksi didaerah epigastrium, suprosternal, interkostal pada saat inspirasi.( Ngatisyah.2005 hal 23 )

Etiologinya:
Gangguan traktus respiratorius: Hyaline Membrane Disease(HMD), Transient Tachypnoe of the Newborn(TTN), Infeksi(Pneumonia), Sindroma Aspirasi, Hipoplasia Paru, hip-ertensi pulmonal,kelainan kongenital(Choanal Atresia, Hernia Diafragmatika, Pierre- robin syndrome), PleuralEffusion, kelumpuhan saraf frenikus, dll
Luar traktus respiratoris: kelainan jantung kongenital, kelainan metabolik, darah dan SSP
Manifestasi klinisnya Takhipneu (> 60 kali/menit),
Pernafasan dangkal, Mendengkur, Sianosis,Pucat, Kelelahan, Apneu dan pernafasan tidak teratur, Penurunan suhu tubuh, Retraksisuprasternal dan substernal, Pernafasan cuping hidung
Penatalaksanaan meliputi :
1)Mempertahankan ventilasi dan oksigenasi adekwat.
2)Mempertahankan keseimbangan asam basa.
3)Mempertahankan suhu lingkungan netral.
4)Mempertahankan perfusi jaringan adekwat.
5)Mencegah hipotermia.
6)Mempertahankan cairan dan elektrolit adekwat.
B. SARAN
Saran yang dapat diberikan dari makalah ini adalah laksanakanlah penatalaksanaan yang sebaik- baiknya pada neonatus dengan sindroma gawat nafas ini, sehingga pada akhirnya akan dapatmenurunkan angka kematian neonatus- Bagi MahasiswaDalam penetapan manajemen kebidanan diharapkan mahasiswa dapat melakukan pengkajianyang lebih lengkap untuk mendapatkan hasil yang optimal dan mampu memberikan asuhan yangkompeten bagi pasien. Mahasiswa juga diharapkan dapat mengaplikasikan ilmu yangdiperolehnya selama proses pembelajaran di lapangan.- Bagi Institusi PendidikanDiharapkan bimbingan yang seoptimal mungkin dari pendidik lapangan dalam membimbingmahasiswa di lapangan dalam memberikan asuhan kebidanan dan keperawatan bagi pasiensehingga mahasiswa dapat mengevaluasikan teori dan praktek yang telah diperolehnya.- Bagi pasien dan keluarga

Diharapkan kepada klien agar menerapkan asuhan kebidanan yang telah diberikan baik berupatindakan pencegahan maupun dalam pelaksanaannya

DAFTAR PUSTAKA
FKUI .1985.
Ilmu Kesehatan Anak Jilid I.
Jakarta: EGCLadewig,patricia,dkk.2006.
Buku Saku Asuhan Keperawatan Ibu Bayi Baru Lahir Edisi 5.
Jakarta:EGC

Manuaba, Ida Bagus Gde
. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan.
Jakarta: EGCMansjoer, A dkk. 2002.
Kapita Selekta Kedokteran
. Jakarta : FKUI Ngatisyah.2005.
Perawatan Anak Sakit Edisi 2.
Jakarta: EGCPelatihan PONED Komponen Neonatal 28-30 Oktober 2004)Surasmi,Asrining,dkk.2003.
Perawatan Bayi Resiko Tinggi.
Jakarta: EGChttp://askep-askeb-kita.blogspot.com/

Tinggalkan komentar

Hello world!

Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

1 Komentar

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.